Coklat ?

coklat1

“kakak , gih di makan atuh coklatnya” pinta bibi pada ku

“iya,bi. Nanti aku makan coklatnya.”

“kenapa harus nanti ,ntar lupa loh.”

“oke bibi” jawabku dengan singkat.

Aku pun mengambil coklat di atas meja de]engan senang aku membuka bungkus coklat tersebut . Tiba-tiba, ada kucing yang berlari kearahku dan menyebabkan coklat yang aku pegang jatuh ke lantai. Untungnya masih ada tiga potong coklat lagi aku pun bisa melanjutkan untuk makan coklat. Lima menit setelah aku makan itu coklat, perutku mulai berkontraksi seperti di guncang-guncang . Ketika itu aku langsung menuju toilet dengan kecepatan tinggi aku belari menuju toilet dengan memegangi perutku. Hampir lima kali aku bolak-balik masuk ke dalam toilet,wajah ku menjadi pucat pasi setelah bolak balik dari toilet. Tiba-tiba bibiku membawa obat serta membuatkan aku secangkir teh hangat. Tanpa ragu-ragu, aku langsung minum obat dan menghabiskan secangkir teh itu.

“aku kapok makan coklat,gara-gara coklat aku harus sakit perut begini hingga menyulitkan diriku sendiri.”

“ya sudah nanti bibi buatkan bubur saja ya. Mau bubur sum-sum,bubur jawa atau bubur kacang hijau ?” tanya bibi ku

“aku mau cicip bubur jawa sebab dari namanya unik.”

“sebentar yah bibi buatkan.”

“oke”

Sepuluh menit kemudian, bibiku membawa semangkuk sedang bubur jawa untuk ku. Ketika aku makan bubur rasanya enak banget sampai-sampai bikin ketagihan, rasanya pas banget dengan lidahku. Aku pun kembali bersemangat untuk melakukan aktivitas yang lain. Keesokkan harinya aku pergi sekolah dengan menempuh jarak yang cukup dekat dari rumah bibiku. Di sekolah banyak jajanan yang mengandung coklat sehingga membuatku tak tertarik untuk jajan ketika waktu istirahat tiba. Ketika jam pulang pun berbunyi teman ku mengajak ku untuk makan bakso di salah satu tempat jajanan yang paling banyak pengunjungnya di daerahku. Untungnya waktu itu aku makan tanpa bayar (free) karena waktu itu hari ulang tahun temannku. Tak ku sangka ternyata, rasa bakso itu juga bikin aku mual, untuk mnghargai traktirannya dengan terpaksa aku makan itu bakso tetapi aku sengaja meyisahkan baksonya hanya mie dan sayurnya saja saya makan. Sepulang dari acara traktiran itu aku pun langsung pulang dan sikat gigi serta kumur-kumur dengan cairan pencuci mulut agar nggak terasa lagi rasa serta bau bakso. Ketika di rumah ibuku sedang memasak jamur kuping aku pun tak mau ketinggalan untuk membantunya, saat itu lah aku mulai tertarik dalam dunia memasak. Ketika jamurnya sudah masak, aku adalah orang pertama yang mencicipi makanan tersebut dan rasanya “WEANAK TENAN di banding bakso tadi” cetusku.

Roda pun berjalan seiringan waktu, tibalah waktu special buatku karena hari itu aku genap berusia “sweet eleven” dan tak ada satu dari temanku member ucapan kepada hanya sahabat karibku yang member ucapan pertama kepadaku.
“happy birthday Malda,semoga menjad anak yang baik dan sukses untuk kedepannya,amin” kata Vetty padaku.

“Amin,terima kasih Vetty”

Tiba-tiba di perjalanan pulang aku aneh melihat semua tingkah laku temanku. Aku sendirian menuju persimpangan. Ketika di tengah jalan tiba tiba ada yang memegangku tangan ku dari belakang serta menutup kedua mataku serta mulutku seperti terjadi penculikan. Tanpa kusadari aku di bawa ketempat yang aku sendiri tak tahu karena kedua bola mataku di tutup dengan penutup mata. Ketika aku sampai di tempat itu terdengar suara hentakan kaki yang tak henti bergerak. Hingga tak tahan lagi aku pun meneteskan air mata dan menangis dalam kegelapan.

Tiba-tiba tutupan mataku pun di buka dan sejauh mata ku memandang semuanya masih terlihat buram dengan keadaan sekitar yang sepi dan gelap. Sekitar lima menit kemudian aku pun hendak berdiri tetapi apa daya ternyata kedua kaki dan tangan ku masih terikat kuat oleh tali. Aku berusaha untuk melepaskannya dan alhasil aku menggeserkan tubuhku untuk menggosokkan ikatan tali di tangan ku ke suatu pecahan kaya yang tak jauh dari tempat aku di sekap.  Ketika ikatan tersebut terlepas aku pun langsung membuka ikatan di kedua tangan ku. Aku pun beranjak untuk berdiri dan mencari jalan keluar untuk bisa keluar dari tempat itu tetapi aku mendengar hentakan kaki orang yng akan menuju tempat ini. Aku pun langsung bersembunyi di balik tumpukan-tumpukkan kardus. Ketika pintu itu di buka hanya ada seorang kakek-kakek tua yang ingin mengambil peralatan perkebunan. Aku pun berdoa dalam hati semoga kakek itu tidak melihatku. Ketika kakeknya keluar aku pun melihat ada sepucuk surat yang di letakkan di depan pintu. Aku pun mengambil dan membacanya

“Jika kamu ingin keluar ikutilah jejak coklati yang berserakkan di sini dan kamu wajib menghabiskannya, Jika kamu tidak memakan itu coklat kamu akan mendapat banyak rintangan di perjalanan !” isi dari surat tersebut.

Aku pun terkejut setelah membaca surat tersebut. Ternyata jejak coklat itu ada di samping ku, aku pun memulainya dengan mengambil coklatnya saja tanpa menghiraukan bahwa aku harus menghabiskan coklat itu tersebut. Aku pun membawa coklat pertama dan menuju kea rah coklat kedua. Ketika aku mengambil coklat kedua aku mendapatkan surat itu lagi dan tiba-tiba  ketika aku mau mengambil coklat kedua ada dari belakang semangkuk coklat cair yang terbang ke arah ku. Sehingga menyebabkan seluruh wajahku berlumuran dengan coklat cair. Aku pun menemukan sepucuk surat lagi yang berisi

“kamu akan lebih muda mencari jalan keluar dan syaratnya kamu harus menghabiskan coklat pertama dan coklat selanjutnya”

Aku pun masih belum percaya dengan semua ini dan aku masih tetap bertahan untuk tidak makan itu coklat. Tetapi banyak kejadian-kejadiaan yang terjadi padaku sampai-sampai aku terpaksa memakan sepotong cokla tersebut. Setelah aku memakan itu coklat aku pun mendapatkan sebuah surat yang berisi

“terima kasih kamu mau makan ini coklat,semnagat untuk menghabiskannya.”

Aku pun heran dengan isi surat itu. Akhirnya aku pun memutuskan untuk tidak memakan semua coklat itu dan datanglah rintangan yang bertubi-tubi kepadaku. Karena aku tak sanggup lagi dengan semua itu aku pun menyerah dan meneteskan air mata sambil berteriak.

“Aku ingin pulang, aku kangen papa mamaku di rumah :'(“

Lima menit kemudian pintu pun di buka dan ternyata teman-temanku datang membawa cake serta kedua orang tua ku di hadapanku dan ternyata waktu di kegelapan gudang tersebut banyak teman-temanku yang bersembunyi di balik tumpukkan-tumpukkan kayu-kayu. Mereka pun menghidupkan lampu dan menyanyikan lagu ulang tahun serta melakukkan pesta bersama. Aku pun sangat senang dengan semua kejutan ini serta aku merasa bersyukur atas semua yang di berikan teman-temanku. Mereka pun menghabiskan seluruh coklat yang aku ambil dengan lahap, lima menit kemudian semua coklat itu ludes. Ketika kami beranjak pulang aku mendaptkan sepucuk surat yang berisi

“Maaf yah gara-gara aku muka kamu jadi berantakan gitu , ini ada Roti kismis yang paling kamu sukai. Aku harap kamu bisa memaafkan aku, salam Misterius”

Aku pun langsung mengambil kuenya dan langsung melahapnya. Sebelum keluar aku pun berteriak

“TERIMA KASIH ATAS KUENYA”.

Posted on August 17, 2013, in Cerpen. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: