Catrin part 2

catr

Ketika dalam perjalanan menuju tempat perkemahan,tak sengaja aku melihat si Nanta mengelus kepala si Catrin dengan penuh kelembutan serta memberikan sebuah buku catatan kepada si Catrin.

“ini untuk apa kak ?” tanya Catrin kepada Nanta.

“ini buku untuk kamu mencatat semua hal yang pernah kamu alami,kamu bisa jadikan buku ini sebagai tempat curhatmu Catrin.” Jawab si Nanta dengan penuh keseriusan.

“tapi kak…”jawab Catrin dengan menundukkan wajah kecilnya.

“nggak apa-apa Catrin” balas Nanta padanya.

Tiba-tiba ada seseorang yang mengagetkanku dari belakang hingga membuat aku terjatuh dari tempat persembunyianku. Akhirnya si Nanta dan Catrin menghampiriku dan si Catrin mengulurkan tangannya kepadaku. Tetapi aku langsung berdiri dari tempat dan langsung berlari menuju tenda tanpa basa-basi bersama Catrin dan Nanta.

Malam harinya ketika kami semua berkumpul untuk bernyanyi bersama sambil mengelilingi api unggun tiba-tiba ada si Ina berteriak dari dalam tenda, kami pun langsung menuju ke tenda Ina. Dimana si Catrin sudah terbaring dengan wajah yang begitu pucat dan si Rian pun langsung menggendong Catrin menuju mobil ambulan. Akhirnya si Catrin di larikan ke rumah sakit terdekat di temani dengan si Nanta dan si Rian. Keadaan perkemahan pun sempat terjadi kegaduhan akibat kejadian yang baru saja terjadi.

Tak lama kemudian kami pun langsung menuju tenda masing-masing untuk beristirahat dan menyiapkan seluruh keperluan untuk di bawa ketika mendaki bukit besok pagi. Aku pun bergegas menuju tenda dan memasukkan semua perlengkapan ke dalam ranselku. Keadaan malam itu pun saat dingin karena kami di guyur dengan hujan yang cukup deras sehingga membuat udara semakin dingin.

Keesokkan paginya kami pun berkumpul di tengah-tengah tenda untuk mengantri mengambil sarapan pagi. Setelah kami sarapan kami pun bergegas membentuk kelompok yang sudah di bentuk di sekolah waktu itu, kami pun langsung mencari jejak dengan di bekali satu kantong garam halus dan korek api yang di beri dewan juri tiap perkelompok. Kelompokku menjadi kelompok yang pertama untuk melakukkan mencari jejak,ketika di dalam perjalanan suasana yang tadinya ramai menjadi hening seketika ketika ada dahan kayu yang patah tepat di hadapan ketua kelompokku dan tiba-tiba yang tadinya cuaca terang menjadi mendung seketika.

“ada apa ini ? kenapa tiba-tiba cuaca mendung ya ?” gumamku dalam hati.

Kami pun masih melanjutkan perjalanan untuk sampai di pos yang telah dewan juri tetapkan. Ketika sampai ditempat yang kami tuju aku pun langsung mengambil persediaan minum di dalam ranselku. Seketika ketua dari kelompokku angkat bicara untuk meminta izin agar dapat menggantikkan posisinya sebagai ketua.

“aku tak sanggup lagi,guys. Adakah dari kalian ingin menjadi ketua dari kelompok kita?” pinta Ivan pada kami.

Akhirnya si Andi angkat bicara.

“bagaimana kalau kita ngadain hompimpa biar adil ?” tanya Andi pada kami semua.

“oke,aku setuju yang menang dialah yang menjadi pemimpin. Oke ?” jawabku dengan lanatang.

Ketika kami mengadakan hompimpa tiba-tiba akulah yang menjadi pemenang dalam hal itu. Terpaksa deh aku menggantikkan posisi Ivan sebagai ketua dalam kelompokku.

“oke-oke. Sekarang aku yang menjadi ketua dari keompok ini. Jadi aku harap kalian bisa mengikuti apa saja intruksi yang akan aku katakan pada kalian demi keselamatan kelompok kita, Oke.” Pintaku pada seluruh anggota.

“oke deh” jawab mereka dengan riang.

Ketika dalam perjalanan tiba-tiba kami melihat sebuah danau yang luas di hadapan kami dan kami pun langsung menuju arah danau itu. Tetapi  ada hal yang aneh ku lihat dari kejauhan di danau itu terdapat sesuatu yang bergerak cepat menuju kearah kami.

“stop… jangan ke arah danau itu” teriak ku pada mereka.

“kenapa,Fit ? ada yang salah ya ?” tanya Ivan padaku.

“aku melihat sesuatu bergerak cepat menuju kearah kita,mendingan kita cabut dari tempat ini. Ayo cepat naik ke darat” teriakku dari kejauhan.

“ayolah.. jangan bercanda mulu deh Fit.” Jawab Sinta yang telah duduk di pinggiran danau.

“aku nggak bercanda Sin. Mendingan kita lanjutin lagi aja ke pos selanjutnya.” Pintaku pada Sinta.

Akhirnya mereka pun menuruti apa yang aku katakan. Kami pun menelusuri jalan dengan penuh hati-hati. Tak lama kemudian ketika kami sampai di pos kedua aku melihat si Nanta sedang asyik ngobrol dengan si Ina. Aku pun langsung menuju kea rah mereka dan berniat untuk gabung bersama mereka. Tetapi, tanpa ku sadari ternyata ada Catrin yang lagi duduk di samping Nanta dengan muka yang begitu pucat.

“kamu dari mana aja sih Fit?” tanya Nanta padaku.

“ah,aku dari mana aja kamu tanya? Bukannya kalian tahu kalau sekarang ini kita lagi mencari jejak bersama kelompok masing-masing.” Jelasku padanya.

“mencari jejak ? ada apa dengan kamu si Fit ? jangan-jangan kamu sakit ya. Kita juga dari tadi nggak ngapa-ngapain disini, cuman mendengarkan penjelasan tata cara untuk mencari makanan yang tidak beracun bersama Pak Muhdi.” Jawab Nanta dengan punuh keheranan.

“hah,jadi dari tadi kami mencari jejak untuk apa dong ? dari pos satu sampe pos kedua ini nggak ‘ada yang ngikuti jejak kami dong ?” tanyaku pada Nanta.

“iya,nggak ada. Kan tadi Pak Muhdi bilang bahwa mencari jejaknya diganti dengan acara pengenalan tanaman yang bisa di makan di hutan ini.” Jelas Rian.

Oh My God, kami dari tadi capek-capek ternyata kalian masih duduk manis disini. Rasanya kami mau mati tahu karena banyak hal aneh yang terjadi.” Jelasku pada Nanta.

“mendingan kamu istirahat aja kan kalian baru saja selesai menempuh jarak yang lumayan jauh tuh” pinta Nanta padaku.

“iya,tapi merasa sedikit lapar nih. Ada persediaan roti nggak Nan ?” tanyaku pada Nanta.

Tiba-tiba si Catrin langsung menuju tendanya dan mengambil sesuatu dari tendanya. Tak lama kemudian si Catrin membawa sebungkus roti dan minuman yang sama aku lihat di mejaku waktu itu. Dia pun langsung memberikan makanan serta minuman itu kepadaku.

“ini kak,Catrin masih punya persiadaan makanan dan minuman” kata Catrin sambil menjulurkan makanannya kepadaku.

“hah,kok sama persis ya dengan makanan yang ada di atas mejaku waktu itu ya ? jangan-jangan kamu ya yang menarh itu semua ?” tanya ku pada Catrin.

“kan makanan ini banyak di kantin kita Fit,emangnya misalnya iya untuk apa si Catrin melakukkan itu semua ? aneh kamu Fit” Celetuk Nanta.

“iya juga sih, ya udah sini rotinya. Makasih sebelum atas makanannya,hitung-hitung juga untuk membayar pas kamu menabrakku di depan ruang ganti .” Jawabku dengan suara sedikit tinggi pada Catrin.

Aku pun langsung menyantap makanan tersebut dengan lahap, tiba-tiba si Rian membawa sendok dan sekantong obat di tangan kanannya dan memberikannya kepada si Catrin.

“ini obatnya,jangan lupa baca doa dulu sebelum minumnya. Oke.” Pinta Rian pada Catrin.

“oke,sip dah. Makasih kakak” jawab Catrin.

Tiba-tiba keadaan mulai menjadi hening seketika ketika kedatangan Rian di hadapan kami yang bergaya romantis di depan kami. Tak lama kemudian kami pun di minta untuk mencari kayu bakar di sekeliling kami dan kami di buat berpasangan. Tak di sangka aku mendapat bagian berpasangan dengan si Catrin. Ya apa boleh buat aku harus mengikuti perintah dari pak Muhdi. Akhirnya kami berjalan kearah belakang tenda untuk mencari kayu bakar.

“hei,kamu kesini. Ini aku sudah dapat banyak kayu bakar nih,sekarang giliran kamu yang bawa ke tenda yah. Aku capek nih” pinta ku pada Catrin.

“oke kak,sini biar Catrin yang bawa. Kakak istirahat aja dulu” jawab Catrin dengan senyum kepadaku.

“bagus deh kalau kamu tahu tata cara” jawabku dengan sedikit menggangkat kepala.

Catrin pun langsung mengikat kayu bakar yang akan di bawa ke tenda sedangkan aku duduk sambil melihat cara kerja si Catrin. Akhirnya si Catrin membawa semua kayu bakar yang aku cari, ketika di tengah jalan si Catrin tampak kelelahan dan pingsan di tengah jalan. Aku pun langsung berteriak minta tolong  tak lama kemudian datanglah orang-orang bergegas menuju kearah kami.

“Tolong….ini si Catrin tiba-tiba pingsan. Tolong bawa dia ke tenda” pintaku pada yang lain.

Mereka pun membawa si Catrin kearah tenda yang jaraknya tak jauh dari tempat kejadian. Tiba-tiba si Rian datang dengan wajah yang sedikit memerah dan hampir mau menamparku tetapi si Nanta langsung menahan tangan Rian.

“Loe,udah gila apa mau menampar Fitri ? Fitri nggak bersalah masbro” cetus Nanta sambil menahan tangan Rian.

“tapi,dia yang menyebabkan si Catrin pingsan. Kalau nggak dia siapa lagi ?” jawab Rian dengan wajah garangnya.

“tapi nyatanya gitu,si catrin emang lagi sakitkan. Kenapa di paksaain buat ikut kemah” jawab Nanta.

Rian pun langsung meninggalkan kami semua. Tak di duga si Nanta langsung memeluk aku dengan erat.

“ini orang kenapa ya ? tiba-tiba jadi pahlawan kesiangan gini, sakit nggak sih ini orang? “ gumamku dalam hati.

Akhirnya kami langsung menuju ke tenda. Siang harinya kami pun mengantri untuk mengambil makan siang. Setelah aku mendapatkan kotak makan aku pun langsung mencari tempat duduk. Ketika kami makan tiba-tiba si Catrin jatuh pingsan lagi di tengah-tengah tenda ketika dia hendak mengambil air minum.

Semua mata pun tertuju kepada si Catrin dan mereka pun bergotong royong mengangkat si Catrin ke mobil ambulan. Akhirnya pihak ambulan langsung membawa si Catrin ke rumah sakit di kota dan langsung menindak lanjuti penyakit yang di  derita si Catrin. Hingga akhir perkemahan si Catrin pun masih di rawat di rumah sakit.

Posted on August 18, 2013, in Cerpen. Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. can’t wait for the next story..^^

  2. cerita yg bagus.. sukses buat kamu yah ..😀😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: