Catrin part 3

catr

Hari sekolah pun kembali,semua siswa-siswi datang seperti biasanya tetapi sampai detik ini juga aku pun belum melihat batang hidungnya si Catrin. Selepas pulang sekolah aku melihat si Rian jalan menuju tempat parker dengan wajah yang begitu gelisah. Dia pun langsung menghidupkan motor dan pergi kearah yang berlawanan arah dengan arah rumahnya. Aku pun tak ingin tinggal diam,akhirnya aku memutuskan untuk pergi mengikuti kemana Rian akan pergi.

Setiba di tempat tujuan Rian ternyata rumah sakit Diana si Catrin di rawat inap.  Rian pun langsung masuk ke dalam dengan terburu-buru. Ketika sampai di depan kamar Catrin aku pun tak bisa melihat aktivitas mereka di dalam ruangan karena rungan tersebut di tutup rapat oleh tirai. Ketika aku hendak membalik badan sudah ada ibunya si Catrin dengan muka yang sedikit kusut menyapaku.

“kamu temannya Catrin ya,nak ? ayo masuk Catrin sudah menunngu di dalam” pinta ibunya Catrin kepadaku.

“hah….emmmmp.. iya-iya tante” jawabku dengan sedikit kaku.

“ayo-ayo masuk nggak baik di luar” balas ibunya sambil membukakan pintu kamar.

Aku pun tak bisa menolak kembali permintaan ibunya dan akhirnya aku pun masuk bersamaan dengan ibunya kedalam ruangan.

“kak Fitri” sapa Catrin yang terbaring di atas kasur.

“hai” jawabku sambil melambaikan tangan ke arahnya.

“ada keperluan apa kamu datang kesini ?” tanya Rian kepadaku.

“aaaaku… aku tak sengaja lewat kamar Catrin,ada tante di depan ya sudah aku masuk aja”

“iya,tadi nak Fitri ada di depan,ya sudah tante  ajak aja dia kedalam” cetus tante.

Aku pun hanya tersenyum Kepada Rian dan Catrin. Tak lama ketika kami berbincang si Catrin kambuh lagi dengan penyakitnya. Rian pun langsung menekan tombol darurat dan seketika si Catrin tak sadarkan diri. Tak lama kemudian dokter pun datang,kami pun di minta agar menunggu di luar. Kami pun menunggu di luar. Tiba-tiba tante memberikan sebuah buku kecil kepadaku.

“nak,ini buku catatan si Catrin. Kamu bisa baca buku ini sebab si Catrin pernah berpesan kepada tante agar memberikan buku ini kepada anak bernama Fitri” kata tante.

“buku apa ini tante ?” tanyaku

“tante juga kurang tahu nak,kamu bisa bacanya langsung” jawab tante dengan sedikit nada yang merendah.

Saatku buka buku tersebut,tiba-tiba si Rian langsung mengambil buku itu dari genggamanku.

“apa-apaan kamu ini, buku itu sudah menjadi milikku Rian. Sini balikkin buku itu kepadaku” pintaku pada Rian.

“enak saja kamu,ini buku yang dulu aku berikan kepada Catrin. Aku memintanya agar menuliskan semua kejadian baik buruk di buku ini” jawab Rian.

“terus apa masalah dengan kamu, dia sudah memberikkannya kepadaku. Jadi aku berhak membaca apa yang ada di dalam buku itu” jelasku pada Rian.

Setelah mendengar ucapanku Rian langsung memberikan buku tersebut kepadaku dan langsung berlari kearah taman, aku pun langsung mengejar Rian karena merasa bersalah akan ucapan yang aku lontarkan kepada dia. Setiba disana aku melihat dari kejauhan si Rian sedang melontarkan batu-batu kecil kea rah taman dengan wajah yang begitu murung hingga meneteskan airmata. Ketika aku hendak melangkah kearah taman itu, tiba-tiba si Nanta menelponku.

“Fit,kamu lagi di mana sekarang ? aku sudah di depan kamar Catrin nih. Ayo,cepat ke kamar Catrin sekarang juga.” Pinta Nanta padaku.

“iya-iya aku akan kesana” jawabku

“oke deh” jawab Nanta.

Ketika sampai di depan kamar Catrin tiba-tiba si Nanta sedang memangkul ibu Catrin dengan muka yang begitu pucat, aku pun langsung meminta Nanta memanggil suster untuk membawa tante ke ruang pasien. Nanta pun langsung memanggil suster, tak lama kemudian suster dan Nanta datang dengan membawa tempat tidur dorong. Kami pun langsung kearah ruang pasien dan dokter pun langsung mengecek kesehatan tante. Tak lama kemudian dokter  memberikan penjelasan tentang penyakit yang di derita oleh ibu Catrin. Ternyata ibu Catrin mengalami penyakit kanker darah yang sudah tingkat terakhir yang bisa membahayakan nyawanya sendiri apabila terlalu kecapek’an atau pun pola hidup yang tak sehat. Kami berdua pun terkejut dengan pernyataan dokter, aku pun berniat akan merawat ibunya Catrin yang sedang sakit selama Catrin juga masih terbaring di tempat tidur sedangkan Nanta dan Rian akan merawat si Catrin. Sehingga selepas pulang sekolah kami bertiga sekolah selalu pergi bersama menuju rumah sakit. Hari demi hari kami lewati bertiga dengan menjadi perawat serta keluarga baru bagi si Catrin. Sekitar dua minggu Catrin dan ibunya mulai memabik mereka pun telah bisa pulang kerumah. Tiba hari senin si Catrin pun sudah bisa bersekolah kembali.

“akhirnya kamu sekolah juga, bagaiman kabarmu sudah merasa baikan ?” tanyaku pada Catrin.

“Alhamdulillah,baik-baik kok” jawab Catrin sambil sedikit tersenyum.

Bel pun berbunyi semua anak masuk ke dalam kelas, pelajaran pertama pun mulai. Tiga jam pun berlalu saatnya waktu istirahat, aku pun langsung menuju kantin. Tiba-tiba di tengah jalan Nanta mencegatku dan langsung menarikku kearah taman. Aku pun langsung mengikuti Nanta, ketika sampai di taman aku melihat selingkaran lilin yang di susun dengan tulisan Welcome , aku pun langsung tercengang melihat itu.

“bagus nggak menurut kamu ?” tanya Nanta padaku.

“hah, bagus kok. Kamu kok so sweet banget sih Nant” jawabku dengan raut wajah yang sedikit terkejut.

“hahaha, itu bukan buat kamu Fit. Itu buat sih Catrin sebab hari inikan hari pertama Catrin kembali belajar di sekolah ini.” Jawab Nanta.

“yah, aku kira ini buat aku. Aku jadi geer duluan nih, jadi malu deh,haha” jawabku dengan sedikit menundukkan kepala.

Nanta hanya tertawa melihat tingkahlaku ku. Setelah itu Nanta langsung meminta bantuanku untuk mengajak Catrin ke taman sepulang sekolah dengan menutup matanya terlebih dahulu. Aku pun sepakat dengan ide yang di berikan Nanta kepada ku. Akhirnya bel pun berbunyi dan saatnya kami kembali ke kelas masing-masing.

Pelajaran pun di mulai dan kami di minta untuk pergi ke Laboraturium karena kami akan meneliti tentang jaringan yang terdapat di beberapa daun. Setelah sampai di laboraturium kami pun langsung memulai penelitian dari menyeset daun secara tipis hingga mengambil sampel daun tersebut dan di masukkan ke di atas kaca preaparat dan langsung menelitinya di miksroskop. Tak terasa bel pun berbunyi menandakan saatnya pulang kerumah. Aku pun langsung menuju menuju kelas dengan terburu-buru dan langsung menghampiri kelas Catrin. Tepat ketika aku sampai di depan kelasnya Catrin hendak keluar kelas, aku pun langsung menarik tangannya.

“ayo ikut aku sekarang” pintaku padanya sambil mengeluarkan selembar kain untuk menutup mata.

“memangnya mau kemana kak ?” tanya Catrin padaku.

“ayo ikut aja tapi kamu harus menutup mata terlebih dahulu.

Akhirnya dia pun mau mengikuti perintahku, aku pun langsung mengajaknya kearah taman. Sampai di taman ternyata telah banyak anak-anak yang membawa bunga mawar membentuk lingkaran.

“ aku akan melepaskan penutup matmu,tetapi kamu jangan membuka matamu terlebih dahulu” pintaku pada Catrin.

“iya kak” jawabnya dengan singkat.

“buka ketika aku bilang 1,2,3 ya” jawabku.

“1,2,3 kamu boleh membuka matamu” pintaku padanya.

Dengan wajah yang sedikit tercengang ketika melihat semuanya hingga dia tak bisa mengucapkan kata-kata ,dia pun langsung memelukku dan mengucapkkan terima kasih kepadaku hingga meneteskan air mata.

“terima kasih kakak” kata Catrin

“iya sama-sama,Catrin tapi ini bukan hanya aku yang membuat tetapi ini semua dari kami karena kami ikut senang karena kamu telah kembali ke sekolah ini lagi. Kami berharap kamu bisa sehat seperti dulu lagi” jawabku.

Tak lama kemudian Rian datang dengan terburu-buru dengan wajah yang sangat pucat.

“ada apa kak ? kelihatannya sangat terburu-buru, apakah kamu sakit ?” tanya Catrin pada Rian.

“kamu harus sabar yah Cat, semuanya pasti ada hikmahnya” jawab Rian dengan wajah pucatnya.

“memangnya ada apa kak ? kenapa wajah kakak begitu pucat ?” jawab Catrin.

“iya Rian,ada apa sebenarnya ? seperti baru melihat hantu saja” cetusku pada Rian.

“aku mendapat berita dari rumah sakit bahwa ibunya Catrin sedang koma sekarang di rumah sakit” jawab Rian.

“apa kak ? sekarang ibu di mana ?” tanya Catrin pada Rian.

“ibumu di rumah sakit sekarang,ayo kita kesana” jawab Rian

“ayo kak” jawab Catrin dengan singkat sambil menarik tangan Rian.

Kami pun langsung menuju tempat parkiran dan langsung pergi kea rah rumah sakit yang di tuju. Ketika sampai di rumah sakit tampak seorang dokter yang baru keluar dari ruangan itu.

“dok, bagaimana keadaan ibu saya ?” tanya Catrin pada Dokter.

“ ibumu baru saja sadar dari komanya” jawab dokter.

“bisakah saya masuk untuk menjenguk ibu saya sekarang ,dok ?” tanya Catrin.

“iya,silakan. Nanti jika dia telah siuman panggil saya lagi yah.” Pinta dokter kepadanya.

Kami pun langsung masuk ke dalam ruangan ibunya Catrin ternyata kami hanya melihat ibunya yang sedang terbaring lemah dengan tubuh yang di penuhi dengan banyak selang. Aku pun langsung duduk di sofa sambil memandangi si Catrin yang sedang menangis sambil memegang tangan ibunya bertanda dia tidak mau kehilangan ibu tercinta. Hampir empat jam kami menunggu di dalam kamar tanpa ada perkembangan dari ibunya Catrin sampai-sampai si Catrin tidur di samping ibunyanya. Aku pun berencana untuk mengambil selimut dari dalam lemari untuk Catrin tiba-tiba tangan ibunya si Catrin bergerak sedikit demi sedikit hingga mengelus kepala si Catrin. Akhirnya Catrin pun terbangun dari tidurnya dan langsung menangis di hadapan ibunya.

“ibu harus kuat,Catrin yakin ibu bisa melewati semua ini. Kami disini kangen sama ibu terutama aku sebagai anakmu. Jangan tinggalkan aku ibu.” Tutur Catrin kepada ibunya.

Ibunya hanya tersenyum kecil melihat putrinya menangis sambil berkata seperti itu dan berusaha untuk menjawabnya.

“iya,anak ku. Jangan menangis lagi yah kan anak ibu. Kakak sudah sholat belum ?” tanya ibunya

“tapi ibu harus janji nggak akan tinggalkan aku?” jawab Catrin.

Ibunya hanya tersenyum “sholat berjaamaah ayo nak” pinta ibunya.

“iya bu,tapi aku dan kakak semuanya ambil wudhu dulu yah.” Jawab Catrin.

“iya” jawab ibunya.

Tak lama kemudian kami langsung sholat berjamaah, Rian yang menjadi imamnya dan kami sebagai makmumnya. Tak lama kemudian kami pun selesai dan ibu meminta kami agar membaca al-qur’an setelah sholat. Akhirnya kami semua membaca al-qur’an bersama ketika Rian mengucapkan lapas basmallah tiba-tiba ibunya meminta aku untuk mengambil sebuah kertas di dalam lemari. Setelah aku mengambil kertas,

“tolong buka kertas ini setelah kalian baca al-qur’an ini yah dan jadilah orang yang mempunyai budi yang luhur serta punya iman yang kuat yah.” Kata ibunya.

“iya tante” jawabku sambil tersenyum

Akhirnya kami membaca al-qur’an bersama hingga selesai. tiba-tiba mata Catrin langsung tertuju kepada ibunyanya yang tak bergerak lagi dan langsung menjerit histeris. Kami pun langsung mengelilingi tempat tidur ibunya, Rian pun langsung memanggil dokter. Tak lama kemudian dokter pun datang dan langsung memeriksa keadaan ibunya Catrin. Tetapi Allah berkehendak lain ibunya telah kembali kepangkuan sang ilahi, dengan berita seperti itu Catrin langsung tak menyadarkan diri hingga dia harus masuk ke ruang unit gawat darurat. Aku pun langsung menemani si catrin di ruangan tersebut dan si Rian langsung mengurus tentang pemakaman ibunya Catrin.

Setelah beberapa jam Rian sudah menyiapkan semuanya bahkan ibunya Catrin sudah di bawa ke rumahnya dan langsung di mandikan oleh para ibu-ibu. Jelang beberapa menit-menit terakhir keadaan Catrin sudah membaik bahkan dia memintaku untuk langsung ke rumahnya karena ingin mengantarkan kerumah terakhir bagi ibunya. Kami pun langsung menuju ke pemakaman ibunya karena waktu sudah menjelang sore, setiba disana orang-orang baru saja selesai menguburkan jasad ibunya tetapi hal yang aku banggakan sama si Catrin dia tetap tegar walau pun dia sekarang hidup sebatang kara bahkan dia tidak menangis secara berlebihan. Setelah pemakaman selesai aku,Rian,Nanta dan Ina pulang kerumah untuk mengambil peralatan untuk tidur di rumah Catrin untuk menemani dia menunggu rumah.

Ketika malam harinya,kami pun makan bersama dengan menu yang sederhana tetapi disana kami bisa merasakan kebersamaan dalam suasana suka maupun duka. Tiba-tiba si Catrin ingat akan sebuah kertas yang di titipkan ibunya kepadanya sebelum ibunya meninggal. Dia pun langsung mengambil kertas itu dan kertas itu berisi

“assalammualaikum. anakku,jika ibu tidak ada di sampingmu jangan pernah mengeluh karena setiap manusia itu akan kembali kepada sang pencipta. Jadi kalau ibu sudah meninggal ibu ingin melihat kamu tersenyum dengan kamu menjadi anak yang sholeha serta ibu akan tersenyum diatas sana ketika kamu rajin sh olat bahkan membaca al-qur’an karena al-qur’an adalah pedoaman bagi orang yang beriman. wassalammualaikum”  jadilah anak yang baik ya, Malaikat kecilku. J

Posted on September 4, 2013, in Cerpen. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: