a Wishis Pencil part 2

  •        pens

      Aku pun langsung pergi kearah toilet  dengan beberapa pengawal alias orang yang bekerja sebagai photographer. Karena hal itu aku pun tidak bisa berkutik lagi terpaksa aku harus mencari jalan lain,tak lama kemudian datang seorang OB yang akan membersihkan toilet sehingga para photographer di suruh menunggu di luar. Aku pun langsung mengeluarkan akal cerdikku,

“maaf mbak, mbak mau uang tambahan nggak untuk keluarga mbak ?” tanyaku padanya

“boleh ,emangnya ada apa ? bentar kamu ini model terkenal itu kan ?” jawabnya

“iya,tapi masalah sekarang saya berada dalam masalah karena orang-orang mengejarku sehingga aku terkepung bahkan aku ke toilet saja nggak bisa,liat saja tingkahlaku photograpernya”jelasku padanya

“iya juga sih,jadi apa yang bisa saya bantu untuk kamu ?” tanyanya

“bisa nggak kita ganti baju dengan begitu aku bisa pergi dengan tenang. Jika kamu mau aku akan memberikan uang tambahan untuk mu” jawabku

“boleh juga tuh”jawabnya

      Akhirnya kami pun langsung ganti baju, setelah itu aku pun melepaskan cincin di jari manisku dan memberikannya. Tanpa pikir panjang aku pun langsung keluar dengan wajah yang menunduk serta mendengar ocehan dari para wartawan dan photograper

“lama banget ini modelnya dandan yah ? “ cetus salah seorang wartawan

“iya lah namanya juga model internasional siapa yang mau tampil jelek” jawab temannya

“iya juga sih tapi nggak gini-gini juga kali. Lagian ini udah hampir setengah jam loh. Mungkin dia sudah selesai deh” jawab yang lain

“atau jangan-jangan dia kabur dari hadapan kita ?”jawab yang lain

       Akhirnya aku keluar dari tempat itu ,aku pun langsung masuk ke dalam mobil dan mencari pensil selanjutnya, aku pun memilih pensil warna merah. Peraturannya lebih mudah lagi hanya memegang pensil itu dan memikirkan salah satu permintaan yang akan menjadi kenyataan permanen dalam hidupku. Aku pun meminta,

 “untuk kembali ke semula karena aku ingin melewati seluruhnya dengan kenyataan dimana aku berusia di kehidupan nyata serta menjadikan aku untuk bisa berpikir lebih matang dalam bertindak”

         Tak lama kemudian aku pun membuka mataku dan melihat di sekitar diriku bahwa sekarang ada seekor burung merpati yang hinggap di atas kepalaku dan membuat aku terkejut dengan kedatangannya secara tiba-tiba. Tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku dengan sebuta panggilan lamaku,

“enong,enong,enong masih ingat dengan aku nggak ?” tanya seorang cewek kepadaku

“hah,kamu siapa kok aku nggak tahu tentang kamu sih ?”jawabku dengan keheranan

“tuh kan kamu sekarang menjadi anak yang sombong, sudahlah kalau kamu nggak ingat itu sih masalah kamu bukan masalah aku” jawabnya dengan nada tinggi.

“lah kok kamu yang jadi emosi sih ? memangnya aku ada salah apa dengan kamu sehingga kamu marah-marah tanpa sebab kepadaku. Lagian aku juga nggak pernah melihat muka kamu ada di kehidupanku” jawabku dengan sedikit kesal

“oh, gini ya cara kamu memperlakukan teman lama kamu. Dasar, mentang udah ada yang baru nggak bisa memperlihat sikap baik kamu lagi ya kepadku. Dasar Kacang lupa kulit” jawabnya sambil mendorongku kebelakang.

         Akhirnya aku pun terjatuh bahkan aku merasa badanku sepertiorang yang baru saja selesai di pukuli satu kampung.  Aku pun langsung terbangun dengan keadaan terjatuh dari tempat tidur ini hanyalah sebuah mimpi.

“ya ampun aku kira aku tadi ini kenyataan :D” gumamku dalam hati sambil menahan rasa kesakitan.

Posted on September 21, 2013, in Cerpen. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: